Menjelang Idul Fitri, Perangkat Desa di Sumenep Mengeluh: Tiga Bulan Honor Tak Kunjung Cair


       SUMENEP –MATAJATIMNEWS.COM

Menjelang perayaan Idul Fitri yang seharusnya menjadi momentum penuh kebahagiaan bagi umat Muslim, justru menyisakan kegelisahan bagi sejumlah perangkat desa di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura. Hingga saat ini, penghasilan tetap (Siltap) atau honorarium yang menjadi sumber utama penghidupan mereka dilaporkan belum cair selama tiga bulan terakhir.

Padahal, perangkat desa merupakan ujung tombak pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kemajuan sebuah kabupaten sejatinya sangat bergantung pada perkembangan desa. Desa dapat berkembang dengan baik apabila kepala desa beserta perangkatnya dapat menjalankan tugas pemerintahan secara leluasa, tertib, dan penuh tanggung jawab.

Dalam praktiknya, perangkat desa tidak hanya mengurusi administrasi pemerintahan, tetapi juga pelayanan masyarakat hingga pengayoman di lingkungan desa. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah kabupaten menjadi faktor penting agar roda pemerintahan di tingkat desa dapat berjalan dengan lancar.

Namun kenyataan yang terjadi saat ini justru berbanding terbalik. Para perangkat desa, termasuk RT dan RW, menghadapi beban ganda. Di satu sisi mereka harus tetap menjalankan tugas pemerintahan dan melayani masyarakat, sementara di sisi lain mereka juga harus berjuang mencari penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Situasi ini terasa semakin berat menjelang hari raya. Biasanya, suasana menjelang lebaran dipenuhi keceriaan, karena masyarakat bersiap menyambut tamu dan sanak saudara dengan penuh kehangatan. Namun tahun ini, sebagian perangkat desa justru berada dalam kondisi memprihatinkan karena belum memiliki kepastian terkait penghasilan mereka.

Saat ditemui Matajatimnews.com di kediamannya, Kepala Desa Pragaan Laok menyampaikan bahwa pihaknya berupaya mencari solusi sementara demi membantu para perangkat desa.

“Untuk menanggulangi kebutuhan para perangkat desa dalam menyambut hari lebaran ini, kami bersama Sekretaris Desa dan operator desa berupaya mencari pinjaman lunak. Walaupun hanya cukup untuk satu bulan saja, yang penting para perangkat desa bisa menunaikan keagungan hari lebaran dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Operator Desa Hariyanto menambahkan bahwa pihaknya optimistis penghasilan tetap perangkat desa akan segera dicairkan oleh pemerintah daerah.

“Saya yakin dalam waktu dekat penghasilan tetap perangkat desa akan turun. Oleh karena itu, suntikan dana berupa pinjaman ini akan segera kami kembalikan kepada pihak yang membantu. Hal ini sudah menjadi kesepakatan bersama dengan para perangkat desa,” ungkapnya dengan penuh harap.

Sekretaris Desa, Syaiful Bahri, juga mengimbau agar seluruh perangkat desa tetap menjaga situasi tetap kondusif, terlebih di bulan suci Ramadan.

“Saya minta kepada seluruh perangkat desa agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing emosi. Apalagi sekarang masih suasana bulan puasa. Setiap sesuatu yang menurut kita janggal pasti ada hikmahnya. Mari kita hadapi dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Yang Maha Kuasa,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pragaan Laok, Drs. Makhtum Ali. Ia menilai kegelisahan perangkat desa menjelang lebaran merupakan hal yang wajar.

“Sebenarnya uang bukan segala-galanya, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup, uang menjadi hal yang sangat penting. Jadi wajar jika menjelang lebaran ini perangkat desa merasa gelisah karena tidak memiliki persiapan keuangan untuk kebutuhan keluarga,” katanya.

Langkah yang diambil oleh Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan Operator Desa Pragaan Laok untuk mencari pinjaman sementara dinilai sebagai upaya memperpanjang napas sekaligus menjaga stabilitas kondisi perangkat desa.

Peristiwa ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Sumenep, agar ke depan lebih serius dan responsif dalam memperhatikan kesejahteraan perangkat desa yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan masyarakat.

Sebab, tanpa dukungan dan perhatian yang memadai terhadap aparat di tingkat desa, sulit rasanya membangun pemerintahan yang kuat dan pelayanan publik yang maksimal bagi masyarakat.

(Jubriono)

Lebih baru Lebih lama