Edukasi dan Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Lansia sebagai Upaya Mewujudkan Lansia Sehat, Aktif, dan Produktif


    SURABAYA - MATAJATIMNEWS COM

RS Islam Surabaya menggelar kegiatan edukasi dan deteksi dini gangguan pendengaran pada lansia sebagai bagian dari upaya mewujudkan lansia yang sehat, aktif, dan produktif. Kegiatan bertajuk “Waspada Gangguan Pendengaran pada Lansia: Pemberdayaan Lansia Aktif dan Produktif dalam Rangka Hari Lansia Nasional 2026” ini dilaksanakan pada Kamis, 25 Juni 2026, di Resto and Cafe Makam Time Surabaya dengan melibatkan kelompok lansia, keluarga, kader kesehatan, serta masyarakat umum.

Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher (THT-KL), dr. Andi Roesbiantoro, Sp.THT-KL, hadir sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa gangguan pendengaran pada lansia atau presbikusis merupakan kondisi yang umum terjadi akibat proses penuaan. Apabila tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial, kesehatan mental, hingga menurunkan kualitas hidup lansia.

Kegiatan ini tidak hanya berisi penyuluhan kesehatan, tetapi juga pemeriksaan telinga serta skrining sederhana untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada peserta lansia. Peserta mendapatkan edukasi mengenai faktor risiko, tanda dan gejala penurunan pendengaran, pentingnya pemeriksaan kesehatan telinga secara berkala, serta langkah-langkah menjaga kesehatan pendengaran agar tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri dan produktif.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif mengikuti sesi diskusi serta tanya jawab mengenai berbagai keluhan pendengaran yang dialami. Kegiatan juga diselingi dengan hiburan dan pemberian motivasi guna meningkatkan semangat lansia untuk tetap aktif bersosialisasi, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mempertahankan kualitas hidup di usia lanjut.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan edukasi. Nilai rata-rata pre-test meningkat dari 59,6 persen menjadi 88,3 persen pada post-test. Hasil uji statistik menggunakan Paired Sample t-Test menunjukkan nilai p-value kurang dari 0,05, yang menandakan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah edukasi diberikan. Hasil tersebut membuktikan bahwa edukasi kesehatan dan deteksi dini gangguan pendengaran efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan pendengaran pada lansia.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, seluruh rangkaian kegiatan dipublikasikan melalui YouTube Channel RS Islam Surabaya agar materi edukasi dapat diakses oleh masyarakat secara lebih luas. Melalui pendekatan edukasi berbasis komunitas serta pemanfaatan media digital, RS Islam Surabaya berharap semakin banyak lansia dan keluarga yang menyadari pentingnya deteksi dini gangguan pendengaran, sehingga lansia Indonesia dapat tetap sehat, aktif, mandiri, dan produktif di usia senja.

Jurnalis: Mahmud

Lebih baru Lebih lama