UPN Veteran Jatim Ubah Limbah Pisang dan Sisa MBG Jadi Pupuk Organik, Perkuat Program Strategis Nasional dari Desa


  PROBOLINGGO, MATAJATIMNEWS COM

Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur kembali menunjukkan peran strategisnya dalam menghadirkan solusi berbasis riset bagi masyarakat. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Implementasi Riset, tim dosen Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Jawa Timur mengimplementasikan teknologi pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan limbah organik di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, Kamis (16/7/2026). Inovasi tersebut menjadi kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung program strategis nasional melalui penguatan ketahanan pangan, pengelolaan limbah organik, serta pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular.


Yang menarik, inovasi yang dikembangkan tidak hanya memanfaatkan limbah buah lokal, terutama limbah pisang yang melimpah di wilayah pedesaan, tetapi juga mengoptimalkan limbah organik sisa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bahan baku pupuk organik. Pendekatan tersebut menjadi bentuk dukungan akademisi terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis, sehingga manfaat program tidak berhenti pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga diperluas melalui pengelolaan limbah yang produktif, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi bagi masyarakat desa.


Program pengabdian dipimpin oleh Dr. Ir. Maroeto, M.P. sebagai Ketua Tim, bersama Prof. Dr. Ir. Rossyda Priyadarshini, M.P., Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. Agung Winarno, M.M. selaku anggota tim dosen. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa UPN "Veteran" Jawa Timur sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis riset dan pengabdian kepada masyarakat. Program ini merupakan hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi yang dikembangkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi petani, yakni tingginya ketergantungan terhadap pupuk kimia, meningkatnya biaya produksi pertanian, serta belum optimalnya pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai tambah.


Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan. Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Wonomerto Rasyidhi, S.Sos., M.M., Sekretaris Kecamatan Wonomerto Iswahyudi, S.Sos., M.Si., Kepala Desa Sumberkare Sutrisno, Ketua TP PKK Kecamatan Wonomerto Uliuk Sugiarti, Ketua TP PKK Desa Sumberkare Pujiati, Koordinator Keluarga Berencana Kecamatan Wonomerto Dra. Wiwin Iswinarni, M.M., Asisten Lapangan Badan Gizi Nasional (BGN) Desa Sumberkare Abd Rochim, S.Kom., Kaur Keuangan Desa Sumberkare Moh. Hafidul Kamil, Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Tasan, beserta perangkat desa, kelompok tani, kader PKK, dan masyarakat Desa Sumberkare.


Ketua Tim PKM, Dr. Ir. Maroeto, M.P., mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil-hasil penelitian dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, Desa Sumberkare memiliki potensi besar berupa limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki kandungan bahan organik dan unsur hara yang dapat diolah menjadi pupuk berkualitas.


"Melalui program ini kami ingin menghadirkan teknologi yang sederhana, mudah diterapkan, dan dapat diproduksi secara mandiri oleh masyarakat. Limbah organik yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat diubah menjadi sumber daya produktif yang membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan," ujarnya.


Pelatihan dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan produksi pupuk organik cair melalui metode learning by doing. Tim pengabdian memberikan pendampingan mulai dari pemilahan limbah organik, pencacahan limbah pisang dan sisa bahan organik, penyusunan komposisi bahan baku, pembuatan larutan bioaktivator, proses fermentasi, pengendalian kualitas fermentasi, penyaringan hasil pupuk cair, hingga teknik penyimpanan dan aplikasi pupuk sesuai kebutuhan tanaman. Sebagai bagian dari penerapan teknologi tepat guna, residu padat hasil fermentasi juga dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik padat sehingga seluruh bahan organik dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa menghasilkan limbah baru. Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pendampingan, monitoring, dan evaluasi agar masyarakat mampu memproduksi pupuk secara mandiri dan berkelanjutan.


Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara Ketua Pelaksana PKM Dr. Ir. Maroeto, M.P. dengan Kepala Desa Sumberkare Sutrisno sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan program. Melalui penandatanganan tersebut, tim pengabdian menyerahkan sejumlah aset pendukung berupa tiga unit tumbler pupuk berkapasitas 200 liter, dua liter bakteri Streptomyces, serta paket Teknologi Tepat Guna (TTG) pembuatan pupuk cair organik untuk dimanfaatkan masyarakat dalam memproduksi pupuk organik secara mandiri. Penyerahan aset tersebut diharapkan menjadi fondasi lahirnya kelompok masyarakat yang mampu mengembangkan produksi pupuk organik secara berkelanjutan di Desa Sumberkare.


Program PKM Implementasi Riset ini menjadi bukti bahwa hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Inovasi pemanfaatan limbah buah lokal dan limbah organik sisa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjadi solusi atas persoalan sampah organik, tetapi juga menghadirkan alternatif pupuk yang lebih murah, meningkatkan efisiensi biaya produksi pertanian, memperbaiki kualitas tanah, sekaligus membuka peluang tumbuhnya usaha pupuk organik berbasis desa.

Lebih dari itu, sinergi antara UPN "Veteran" Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Pemerintah Kecamatan Wonomerto, Pemerintah Desa Sumberkare,Badan Gizi Nasional, kelompok tani, dan masyarakat menjadi contoh konkret kolaborasi pentahelix dalam mendukung agenda pembangunan nasional.

Melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dan inovasi berbasis riset, desa didorong menjadi pusat pengelolaan limbah organik yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan. Model seperti ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis, serta mewujudkan pembangunan yang berorientasi pada ekonomi hijau dan kesejahteraan masyarakat.

Red

Lebih baru Lebih lama