MATAJATIMNEWS.COM||BANGKALAN
Kasus dugaan kelalaian tenaga medis kembali mencuat di wilayah Kabupaten Bangkalan. Seorang petugas di Puskesmas Tanah Merah, Desa Petrah, diduga menangani pasien anak secara asal-asalan hingga menyebabkan pasien mengalami luka dan kesakitan akibat pemasangan infus yang tidak tepat.
Irfan Ali selaku orang tua, menurut keterangannya, peristiwa bermula saat anak mereka menjalani perawatan infus di Puskesmas tersebut.
Namun selang infus mengalami kebocoran. Petugas kemudian mengganti infus tersebut berulang kali, tetapi penanganan yang dilakukan justru memperburuk keadaan.
“Infus bocor diganti terus sampai tiga kali. Tapi bukannya membaik, anak saya malah menangis kesakitan dan keluar darah dari kakinya,” ungkap orang tua pasien kepada wartawan, Rabu (17/12/2025).
Orang tua yang merasa khawatir kemudian menanyakan langsung kepada petugas yang menangani. Namun jawaban yang diterima justru memperlihatkan sikap tidak profesional.
“Saya tanya, kenapa bisa begini? Eh dia jawab, ‘saya nggak tahu kalau bisa jadi begini’. Masa tenaga medis bisa bilang nggak tahu, padahal dia yang menangani dari awal,” ujar orang tua pasien dengan nada geram.
Ia menilai tindakan tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan dan standar pelayanan di Puskesmas dan mendesak agar ada evaluasi serius terhadap kinerja tenaga medis di tingkat pelayanan dasar.
“Kalau infus saja tidak bisa dipasang dengan benar, bagaimana masyarakat mau percaya berobat di Puskesmas?” tuturnya.
Karena kecewa dengan penanganan yang dinilai asal-asalan, orang tua pasien akhirnya memutuskan untuk pulang paksa dan justru diwajibkan membayar Rp 505.000, padahal orang tua pasien terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
"Seharusnya sejak awal petugas menjelaskan konsekuensi administrasi jika pasien pulang paksa, bukan malah membiarkan tanpa pemberitahuan. Saya pulang bukan karena ingin, tapi karena kecewa terhadap pelayanan yang tidak manusiawi dan jauh dari profesional," ucapnya sambil kecewa.
Keluarga korban kini berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan segera turun tangan untuk menindaklanjuti dugaan kelalaian tersebut.
“Kami datang untuk mencari kesembuhan, bukan untuk dijadikan percobaan. Kalau Dinas Kesehatan diam saja, berarti mereka menutup mata terhadap pelayanan asal-asalan,” tegas keluarga pasien menutup pernyataan.
