MATAJATIMNEWS.COM
3 Maret 2026 | 13.41 WIB Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah titik di Iran pada akhir Februari memicu reaksi luas dunia internasional. Salah satu lokasi yang dilaporkan terdampak adalah kompleks kantor pusat Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) di Teheran. Peristiwa itu kembali menempatkan Iran dalam pusaran ketegangan geopolitik kawasan.
Di tengah eskalasi tersebut, perhatian global tertuju pada dua negara yang selama ini memiliki hubungan strategis dengan Teheran: Rusia dan China. Keduanya dikenal menjalin kerja sama diplomatik, ekonomi, hingga pertahanan dengan Iran. Namun, krisis kali ini menjadi ujian nyata: seberapa jauh Moskow dan Beijing akan melangkah?
Pemerintah Rusia secara terbuka mengecam tindakan militer yang dilakukan Washington dan Tel Aviv. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan bahwa Moskow menilai situasi tersebut sebagai bentuk eskalasi serius yang berisiko memperluas konflik kawasan.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengkritik keras apa yang mereka sebut sebagai tindakan sepihak dan berbahaya. Namun, di balik retorika tegas itu, respons Rusia terlihat berhati-hati. Hingga kini, belum ada indikasi keterlibatan militer langsung dari Moskow dalam membela Iran.
Sejumlah analis menilai sikap ini mencerminkan kalkulasi strategis Rusia: menunjukkan solidaritas politik kepada mitra lamanya tanpa terjerumus ke dalam konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat maupun Israel. Rusia disebut lebih memilih jalur diplomasi dan komunikasi dengan negara-negara di kawasan Teluk untuk mencegah konflik meluas.
China: Stabilitas dan Kepentingan Ekonomi
Sementara itu, China cenderung mengambil posisi yang lebih moderat. Beijing secara konsisten menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian melalui dialog. Bagi China, stabilitas kawasan Timur Tengah memiliki arti penting, terutama karena ketergantungan energi dan kepentingan jalur perdagangan global.
Sebagai salah satu mitra dagang utama Iran, China berkepentingan menjaga hubungan bilateral tetap stabil, tanpa harus terlibat dalam konflik bersenjata. Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Beijing yang menekankan non-intervensi dan diplomasi jangka panjang.
Krisis ini memperlihatkan dinamika kompleks dalam hubungan internasional modern. Meski Rusia dan China memiliki kedekatan dengan Iran, dukungan keduanya tampak lebih bersifat diplomatik dan simbolik ketimbang militer langsung.
Situasi ini menegaskan bahwa dalam politik global, aliansi tidak selalu berarti keterlibatan tanpa batas. Setiap negara tetap mempertimbangkan kepentingan nasional, risiko konfrontasi besar, serta dampak ekonomi dan keamanan jangka panjang.
Perkembangan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh intensitas eskalasi dan langkah diplomasi yang ditempuh para pihak. Dunia kini menanti: apakah ketegangan ini akan mereda melalui jalur perundingan, atau justru membuka babak baru konflik di kawasan yang sudah lama rapuh tersebut.
Red
