MATAJATIMNEWS.COM
Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Peristiwa ini adalah perjalanan spiritual luar biasa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atas kehendak langsung Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Isra Mi’raj tidak dapat diukur dengan logika akal manusia maupun hukum alam yang biasa kita pahami. Ia adalah bukti kekuasaan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Secara syariat, Isra Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Dalam kalender Masehi, tanggal peringatannya berbeda-beda setiap tahun karena perbedaan sistem penanggalan. Umumnya, Isra Mi’raj diperingati pada sekitar bulan Januari atau Februari dalam kalender Masehi, tergantung pada konversi tahun Hijriah yang berlaku.
Isra Mi’raj terbagi menjadi dua peristiwa. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa naik ke langit hingga Sidratul Muntaha.
Dalam perjalanan suci inilah Rasulullah dipanggil langsung oleh Allah untuk menerima wahyu berupa perintah salat lima waktu, sebuah kewajiban utama bagi seluruh umat Islam hingga akhir zaman.
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan ruhani yang tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat manusia.
Kita sebagai umat Islam hanya mampu membungkus peristiwa ini dengan keimanan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika Allah berkehendak memberangkatkan Rasulullah dalam satu malam menembus ruang dan waktu, maka tidak ada satu pun yang mampu menghalangi kekuasaan-Nya.
Setelah menerima perintah salat lima waktu, keesokan harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum Quraisy dan menyampaikan apa yang telah beliau alami. Namun, tidak semua orang menerima kabar tersebut dengan iman.
Bahkan dari kalangan terdekatnya sendiri muncul penentangan. Abu Jahal dan Abu Lahab dengan lantang mengejek dan mengatakan bahwa Muhammad telah gila. Mereka berkata, “Apakah hanya karena ini engkau mengumpulkan kami?”
Mereka menolak untuk mempercayai dan mengimani peristiwa Isra Mi’raj tersebut.
Di tengah cemoohan dan penolakan itu, muncul sosok mulia yang pertama kali membenarkan peristiwa Isra Mi’raj tanpa sedikit pun keraguan. Dialah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika mendengar kabar Isra Mi’raj,
Abu Bakar berkata dengan penuh keyakinan, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya. Bahkan lebih dari itu, aku percaya bahwa Rasulullah adalah kekasih Allah dan Allah Maha Mampu atas segala sesuatu.”
Keimanan Abu Bakar inilah yang kemudian mengangkat derajatnya dengan gelar Ash-Shiddiq, orang yang selalu membenarkan Rasulullah tanpa ragu. Peristiwa Isra Mi’raj pun menjadi ujian keimanan bagi umat manusia: siapa yang percaya dengan hati yang bersih dan siapa yang menolak karena keterbatasan akalnya.
Isra Mi’raj bukan sekadar kisah sejarah, melainkan pengingat bagi umat Islam akan pentingnya salat sebagai tiang agama. Salat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara malaikat, sebagai bukti betapa agung dan wajibnya ibadah tersebut.
Semoga melalui peringatan Isra Mi’raj, keimanan kita semakin kuat, kecintaan kepada Rasulullah semakin dalam, dan ketaatan kita dalam menegakkan salat lima waktu semakin kokoh sebagai wujud penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Red
Tags
Terkini
