Proyek Jalan PUPR Sumenep Diduga Asal Jadi, Pasir Tempelan Aspal Bagaikan Debu — Uang Negara Dipertaruhkan


      SUMENEP – MATAJATIMNEWS.COM

Pekerjaan infrastruktur jalan yang diduga dikerjakan oleh instansi di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sumenep kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, proyek yang menggunakan anggaran negara tersebut terkesan dikerjakan secara asal-asalan dan jauh dari standar kualitas yang semestinya.

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 21 Februari 2026. Berdasarkan temuan di lapangan, masyarakat mempertanyakan kualitas pekerjaan tambal sulam atau pelapisan aspal yang dinilai tidak memenuhi spesifikasi teknis. Warga yang memegang bagian tempelan aspal mengaku mendapati material pasir yang digunakan bagaikan debu, tidak merekat sama sekali pada permukaan jalan.

“Pasirnya seperti tidak ada campuran perekat, disentuh saja rontok. Kalau kena air pasti langsung hanyut,” ujar salah satu warga di lokasi.

Tim investigasi dari Media Pojok Fakta bahkan sempat merekam dan mendokumentasikan secara langsung kondisi tersebut. Dalam video yang diambil, terlihat jelas bahwa pasir yang digunakan sebagai bahan penempel aspal tidak memiliki daya rekat. Saat digenggam, butiran pasir terlepas begitu saja. Kondisi ini tentu memicu kekhawatiran akan daya tahan jalan, terlebih saat musim hujan dengan intensitas air yang tinggi.

Secara teknis, dalam pekerjaan perbaikan atau pelapisan aspal, penggunaan material harus memenuhi standar mutu konstruksi. Bahan perekat atau campuran aspal seharusnya mampu mengikat agregat secara kuat agar tidak mudah terkelupas akibat tekanan kendaraan maupun aliran air. Jika hanya menggunakan pasir tanpa campuran perekat yang memadai, risiko kerusakan dini sangat besar.

Publik pun mempertanyakan pengawasan dan pengendalian mutu dalam proyek tersebut. Mengingat pekerjaan ini dibiayai oleh anggaran negara, transparansi serta akuntabilitas menjadi hal yang mutlak. Masyarakat berharap ada evaluasi menyeluruh dari pihak terkait, termasuk uji kualitas material dan audit teknis di lapangan.

“Kalau dikerjakan seperti ini, baru sebentar sudah rusak lagi. Yang dirugikan masyarakat pengguna jalan,” tambah warga lainnya.

Sorotan ini menjadi pengingat bahwa setiap proyek infrastruktur bukan sekadar pekerjaan fisik semata, melainkan menyangkut tanggung jawab penggunaan uang rakyat. Kualitas pekerjaan yang tidak sesuai standar bukan hanya berpotensi merugikan keuangan negara, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak terkait mengenai spesifikasi material yang digunakan serta mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan proyek tersebut. Transparansi dan tindakan tegas dinilai penting agar kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan anggaran publik tetap terjaga.

Redaksi 

Lebih baru Lebih lama